Syukurku yang lainnya…

Pagi ini aku membaca Quran surat saba ayat 8-39 ,bukan karena ada yang spesial, hanya saja batas tilawahku memang sampai ayat inì,pada ayat 28-31 menerangkan tentang bagaimana sikap orang kafir di hari kiamat. Mereka saling menyalahkan satu sama lain karena mereka tidak beriman dan berislam.  

Teringat kejadian beberapa hari yang lalu saat sedang mengikuti acara “emerge conference” tentang social etrepreneur di said business school university of oxford dengan teman saya, satu hal yang disayangkan adalah karena keterbatasan pemahaman bahasa inggris yang menyebabkan terlewatnya beberapa informasi penting selama conference berjalan. Tapi itu bukan masalah yang besar karena setelahnya kita bisa membahas isi conference lebih detail lagi selama perjalanan di kereta dari kota oxford menuju kota london selama kurang lebih 1 jam 30 menit. Lalu saya berfikir dan merasa menyesal kenapa begitu dangkal pemahaman bahasa inggris yang menyulitkan saya dalam memahami isi confrence secarah menyeluruh. Dengan berbagai macam orang dari berbagai negara datang, dengan logat bahasa inggris yang beragam yang sering menyulitkan saya untuk memahami maksud perkataan mereka. Tapi tidak dengan sebagian besar peserta yang memang bahasa utama mereka adalah bahasa inggris. Mudah bagi mereka untuk memahami setiap kata yang dilafalkan cepat deangan logat yang berbeda beda. Keterbatasan bahasa inggris ini sebenarnya bukan hal yang bisa dijadikan alasan, disinilah sekali lagi hal yang mebuatku ingin bersyukur lagi dan lagi.

Awalnya aku merasa kenapa tidak dilahirkan sejak kecil dinegara dengan bahasa inggris, yang sayangnya negara negara itu bukanlah negara dengan mayoritas muslim. Tapi pagi ini setelah membaca ayat diatas aku benar benar tersadar kembali dan merasa bersyukur dilahirkan di Indonesia, dengan segala macam kondisinya. Idonesia negara yang nyaman sesungguhnya, dibandingngkan beberapa negara lain, nyaman dari segi kultur, alam, sumber daya dan masih banyak lagi. Dengan lingkungan mayoritas muslim, dilahirkan dikeluarga muslim, sehingga lebih mudah bagiku untuk lebih dalam memahami islam secara kamil dan syamil. Beribadah dengan mudah dan tenang. Walau harus berbahasa Indonesia dari kecil dan cukup penuh perjuangan untuk mempelajari bahasa inggris. Mungkin mudah bagi sebagaian lainnya mempelajari bahasa tapi mungkin aku termasuk yang butuh waktu lebih lama untuk memahami bahasa inggris, tapi semuanya bukan lagi masalah,  aku benar benar bersyukur dengan keadaan ini. Walau harus belajar banyak bahasa lain yang mayoritas digunakan, itu jauh lebih baik dari pada aku harus dilahirkan tidak dari keluarga muslim dan dilingkungan minoritas muslim. Ini sudah sangat sebuah nikmat besar yang jika Ia tidak berkehendak memberikan ku nikmat ini maka aku bukanlah aku yang saat ini. Sehingga dari sejak dilahirkan aku sudah beragama islam. Alhamdulillah. Satu nikmat yang sering terlupakan. Karena hidayah pun hanya Dia yang memiliki kuasa pada siapa akan diberikan, siapapun punya kemampuan untuk menyampaikan tapi tetap Allah yang punya hak dalam memberikan hidayah.  

So…dipagi pertama 1435 H di negeri orang ini aku lagi lagi hanya ingin bersyukur sebanyak banyaknya semoga Allah menjaga keistiqomahan kita dalam berislam dan beriman. Hidup dinegri minoritas muslim ini benar benar banyak membuat ku bersyukur telah dilahirkan di negara mayoritas muslim, Indonesia , walaupun disisi lain banyak fasilitas yang sangat menguntungkan di sini yang belum bisa didapatkan di negriku Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s